Pengarang Gak Becus, Kebanyakan Light Novel Akhirnya Ditulis Ulang Oleh Editor

Beberapa tahun ini industri light novel tengah booming di Jepang. Bacaan ringan yang biasanya bergenre fantasi, fiksi ilmiah, dan romansa masa muda ini terbukti diminati oleh para otaku.

Tidak hanya dinikmati sebagai bacaan, kebanyakan serial light novel sekarang juga diadaptasi menjadi anime dan media lainnya.

Berkat berkembangnya teknologi, siapapun kini bisa mulai menjadi pengarang light novel, bahkan nama-nama terkenal seperti Reki Kawahara, Tsutomu Sato, dan Tappei Nagatsuki memulai karirnya dengan menggunggah cerita mereka di situs Shosetsuka ni Narou.


Tampilan situs Shosetsuka ni Narou

Kebanyakan penerbit di Jepang sekarang juga tidak perlu repot dalam menentukan judul yang akan diterbitkan, mereka tinggal memonitor situs-situs seperti itu untuk menemukan talenta baru, jika mendapati cerita populer, penerbit tinggal mengubungi sang penulis dan menawarkan untuk mencetak karya mereka dalam bentuk fisik maupun digital.

Namun, seorang editor light novel, yang memilih untuk merahasiakan identitasnya, baru-baru ini berbicara dengan majalah Nikkan Cyzo tentang metode ini yang dianggapnya bermasalah.

Dari permukaan, sistem ini terlihat seperti jalan mudah untuk mencapai kesuksesan, karena penerbit sudah memilih cerita yang sudah memiliki fanbase. Namun, editor ini berpendapat bahwa hampir tidak ada web novel yang akhirnya setuju untuk bekerjasama dengan sebuah penerbit cukup bagus untuk langsung dijual begitu saja ke pembaca.

“Jadi sebelum diterbitkan, editor meminta pengarang melakukan revisi, namun kami melihat semakin banyak pengarang yang tidak mampu menjadikan buku mereka layak terbit, tidak peduli berapa kali mereka menulis ulang,” ujarnya.

Dia pernah mengirim kembali naskah ke pengarang dengan banyak poin yang harus direvisi, menunggu sebulan lagi dan hanya sedikit sekali perbaikan yang terjadi.

“Versi yang mereka unggah di internet merupakan hasil kerja keras mereka dengan seluruh kemampuan, dan gak ada cara bagi mereka untuk melakukannya dengan lebih baik.”

Namun, pihak penerbit tidak mau tahu, dan ketika editor mengatakan “pengarangnya gak becus” tidak bisa dijadikan alasan. “Jadi akhirnya editornya sendiri yang menulis ulang,” ujarnya, dia mengatakan bahwa saat ini semakin banyak light novel yang ditulis sepenuhnya oleh editor mereka, bukannya oleh pengarang yang namanya tertera di sampul.

Salah satunya adalah buku yang ditangani olehnya “Pengarangnya menyerah, jadi aku menulis sendiri 200 halaman.”

Padahal seharusnya, tugas editor hanyalah mencari cara untuk memperbaiki naskah kurang dari sempurna yang ditulis oleh pengarang. Namun, kenyataannya semakin banyak editor yang menjadi penulis bersama, dan tidak hanya bikin stres pekerjaan ini juga tidak menguntungkan.

“Ada beberapa light novel yang ditulis oleh editor, namun pembayaran royalti sepenuhnya diterima oleh pengarang. Menjengkelkan,” pungkasnya.

Sumber: SoraNews24