Mangaka ‘Say Hello to Black Jack’ Ikut Tanggapi Masalah Ketenagakerjaan di Industri Manga

Beberapa hari belakangan isu ketenagakerjaan di industri manga kembali mencuat. Mangaka Yawara no Michelangelo, Shunsuke Kakuishi, minggu lalu mengunggah sebuah tulisan di blognya yang isinya menagih upah lemburnya yang tidak pernah dibayarkan selama dirinya menjadi asisten Norifusa Mita.

Kakuishi meminta Mita membayarkan upah lemburnya selama 11 tahun dan 7 bulan, yang selama ini tidak diibayarkan. Kakuishi mengatakan bahwa dia berharap tulisannya dapat memperlihatkan borok-borok dari industri manga.

Mangaka seri Say Hello to Black Jack, Shuho Sato, mengunggah tanggapannya lewat blog pribadinya dan mengungkapkan bahwa dia merasa pendapatnya terbagi. Sato mengatakan bahwa dia memiliki dua sudut pandang, baik sebagai mangaka maupun asisten.

Sato mengatakan bahwa dia pernah mengalami kerasnya bekerja sebagai asisten saat dirinya menjadi asisten mangaka Kaiji, Nouyuki Fukumoto. Dia menjelaskan bahwa dirinya bekerja 90 hingga 140 jam dalam seminggu, dan hanya bisa tidur selama 10 jam tiap minggunya. Semua itu dilakukannya hanya demi bayaran sebesar 200 yen (sekitar 24.000 rupiah) per jam, tanpa upah lembur.

Karena pengalaman inilah, Sato berjanji untuk memperlakukan asistennya dengan lebih baik ketika menjadi seorang mangaka.

Namun rencana tidaklah seindah bayangannya. Ketika dia sudah menjadi mangaka, dan berusaha memberikan upah yang layak beserta waktu istirahat yang cukup bagi karyawannya, dia tetap melanggar ketentuan ketenagakerjaan Jepang di satu dan lain hal, ini menyebabkan Sato harus mengatur kembali kebijakannya berulang kali.

Dia menaikkan gaji asistennya dan sekarang menawarkan naik gaji dua kali tiap tahunnya beserta bonus hingga empat bulan gaji setiap tahunnya. Dia juga membayar biaya transportasi, menyediakan asuransi, dan menawarkan hari cuti beserta hari libur dua kali dalam sehari.

Meskipun demikian, Sato mengakui bahwa dirinya tetap berada dalam area “abu-abu” karena asistennya seringkali masih bekerja hingga 12 jam dalam sehari.


Shuho Sato, mangaka Say Hello to Black Jack

Karena hal inilah, Sato penasaran apakah asistennya punya perasaan buruk terhadapnya meskipun usahanya untuk membuat kondisi kerja yang layak. Dia tidak yakin apakah ada solusi terbaik untuk masalah ini di industri manga.

Dia merasa tidak berdaya, karena nyatanya kebanyakan mangaka tidak punya cukup uang untuk membayar asisten mereka. Dia menuliskan, “Apa yang harus kita lakukan?” dan menekankan akan leih baik jika kita bisa membangun ulang industri manga.

Sato juga menanggapi komentar Kakuishi yang menyatakan bahwa mangaka tidak memberikan upah yang layak memang hanya karena mereka tidak mau. Sato mengatakan bahwa mangaka tidak berhak membagi royalti terkait hak cipta, yang dipegang oleh mangaka maupun perusahaan yang mengelolanya, kepada para asisten. Dia menambahkan bahwa manga yang sukses akan mendatangkan penghasilan yang cukup, asisten seharusnya menerima kenaikan gaji dan bonus. Namun, mangaka juga akan menghadpi masalah finansial jika karya gagal terjual di pasaran.

Kakuishi membalas komentar Sato dengan cukup emosional lewat Twitter, dia paham bahwa asisten tidak berhak mendapatkan royalti, dan dia menulis dalam tulisan blognya bahwa dia tidak setuju dengan sistem itu. Kakuishi menyatakan bahwa sangatlah tidak realistis bagi asisten untuk menegosiasikan royalti dalam kontrak mereka. Kakuishi hanya menekankan bahwa mangaka haruslah memenuhi peraturan ketenaga kerjaan yang berlaku di Jepang.

Sato lanjut menanggapi Kakuishi di Twitter, dan memohon maaf atas tindakannya yang dirasa tidak sensitif ini. Dia kembali mengunggah tulisan di blog, dimana dia memohon maaf, namun juga menyaatakan bahwa dirinya khawatir Kakuishi bisa jadi seorang hipokrit karena dia sendiri telah menjadi mangaka.

Kakushi pernah mengungkapkan lewat Twitter bahwa dia kadang-kadang memiliki asisten untuk membantunya bekerja, dan mereka bekerja sama di apartment murah sederhana. Dia membayar asistennya 20.000 yen (sekitar 2,4 juta rupiah) per hari untuk delapan jam kerja dengan waktu istirahat selama satu jam, dan asistennya tidak pernah lembur.

Sato sebenarnya tidak yakin apakah Kakuishi benar-benar patuh terhadap peraturan ketenaga kerjaan Jepang. Sebagai mangaka yang lebih berpengalaman, Sato mengatakan bahwa dia patuh terhadap peraturan ketenagakerjaan namun mengakui bahwa hal itu tidaklah mudah bagi mangaka baru.

Kakuishi kemudian memastikan bahwa dirinya terus belajar dan memperbaiki usahanya. Dia menambahkan bahwa dia paham gak ada tempat kerja yang benar-benar “putih”, dan tetap melanjutkan membahas masalah terkait di industri manga dengan sesama netizen di Twitter.

Kondisi lingkungan kerja di industri manga tetap berada di bawah kritik, dan isu mengenai masalah legalitas tetaplah rumit. Namun, ada saja mangaka yang dikenal memperlakukan asistennya dengan baik, Yoshihiro Togashi misalnya.

Sumber: ANN