Mantan Asisten Mangaka Meminta Upah Lembur Yang Belum Dibayarkan

Mangaka serial Yawara no Michelangelo, Shunsuke Kakuishi, baru-baru ini membuat kehebohan lewat artikel yang ditulis dalam blognya. Dia mengungkapkan bahwa dirinya tidak menerima upah lembur selama menjadi asisten dari mangaka Norifusa Mita (Dragon Zakura, Investor Z) selama 11 tahun dan tujuh bulan.

Kakuishi meminta upah lembur yang belm dibayarkan kepada Mita selama rentang waktu itu. Dia menjelaskan bahwa tujuan dibalik tulisan ini adalah untuk mengungkapkan masalah yang dihadapi asisten di industri manga dan mendorong terjadinya perubahan.

Dalam wawancara dengan Yahoo! News Japan ada bulan Desember, Mita mengatakan bahwa asistennya kini diberi hari libur tiga hari seminggu dan dilarang untuk lembur agar mereka memiliki waktu yang cukup untuk istirahat. Selain itu, Mita juga mengatakan bahwa dia menggunakan vendor perusahaan desain untuk menggambar beberapa bagian dari manganya. Langkah ini menurutnya pertama kali terjadi di industri manga Jepang.

Norifusa Mita, mangaka Dragon Zakura dan Investor Z

Kakuishi mengunggah tulisan dalam blognya sebagai jawaban untuk klaim Mita dalam Interview. Menurutnya selama bekerja menjadi asisten Mita hingga bulan April 2017 dia tidak menerima upah lembur “sama sekali” meskipun lembur setia harinya. Saat Kakuishi bekerja untuk Mita, dia bekerja delapan jam sehari dari hari Senin hingga Rabu, namun pada hari Kamis, dia dan asisten lainya akan makan malam sejenak sebelum lanjut bekerja.

Kakuishi mengatakan bahwa mereka tetap bekerja hingga pukul 10 atau 11 malam, tidak jarang juga mereka harus bekerja sampai pukul 1 pagi pada hari Jumat. Kakuishi mengatakan bahwa dia menyimpan kartu absensinya, lengkap dengan catatan waktu kerjanya selama menjadi asisten Mita.

Meskipun demikian dia mengatakan kondisi kerja di tempat Mita jauh lebih baik dibandingkan kondisi yang dialami asisten lainnya di industri manga.

“Meskipun lebih baik dari standar industri,” ucap Kakushi, “Tidak bisa dibilang benar-benar ‘putih’. Apakah tempat kerja itu mematuhi peraturan kerja sesuai ketentuan pemerintah, aku juga tidak bisa bilang iya.” Kakuishi menyebut ‘putih’ sebagai referensi konsep ‘perusahaan hitam’ dan ‘perusahaan putih’ di Jepang. Umumnya ‘perusahaan hitam’ terkenal sering memaksakan lembur dan gaji rendah, dan potensi karoshi (kematian karena kebanyakan bekerja) lebih tinggi. Sedangkan ‘perusahaan putih’ umumnya menghargai karyawan dan berusaha memastikan kesejahteraan hidup mereka.

Kakushi menambahkan sekalipun dia bertujuan untuk meminta upah lemburnya, tujuan dari tulisannya adalah untuk meningkatkan lingkungan kerja asisten di industri manga. “Bagaimana caranya agar asisten mangaka lebih mudah bekerja? Apakah mungkin untuk memperbaiki jam kerja buruh tinta? Ketika aku memikirkannya, Aku memiliki ide, dan itu adalah menulis permintaan upah lembur dari mangaka lewat media daring.”

Dia berharap aksinya ini dapat mendorong asisten lainnya untuk berani membicarakan masalah mereka terkait kondisi kerja. Dia berharap usahanya akan mencegah hukuman terhadap asisten yang berani berbicara tentang kondisi kerja mereka. Dia percaya meminta upah lembur adalah “sebuah kontribusi terhadap masyarakat,” dan berharap dapat membuat perubahan di industri manga.

Dalam cuitan yang kini telah dihapus, mangaka Kyosuke Usuta, menanggapi tulisan Kakuishi. Usuta mengatakan bahwa Kakuishi salah paham soal industri manga. Dia mengatakan, tergantung kemampuannya, beberapa orang yang bekerja sebagai asisten profesional “mendapatkan gaji tinggi dan punya keluarga.” Dia menambahkan bahwa setiap orang berhak memilih tempat kerjanya, dan menyarankan asisten yang tidak puas mencari pekerjaan baru.

Kakuishi membalas Usuta lewat twitter dan mengatakan, “Kak Usuta, aku pikir yang salah paham adalah mangaka.” Dia percaya bahwa cuitan Usuta membuktikan bahwa eksploitasi terhadap asisten umum terjadi di industri manga.

Sumber: ANN