[Mangaka Monday] Boichi

Pengikut setia majalah Shonen Jump pasti sudah pada tahu manga Dr. Stone yang ceritanya ditangani oleh Riichiro Inagaki dan diilustrasikan oleh Boichi kan? Dr. Stone memang menandakan debutnya sebagai ilustrator di majalah Shonen Jump, tapi dia juga punya banyak judul manga yang ditangani olehnya seorang diri.

Mangaka kelahiran Korea ini memiliki nama asli Mujik Park, semenjak kecil Boichi memang sudah berniat untuk menjadi artis manhwa, dirinya mulai aktif menggambar semenjak usia 10 tahun.

Saking niatnya, dia bahkan memutuskan untuk masuk jurusan fisika saat kuliah agar mampu menggambar karya fiksi ilmiah. Tidak hanya berhenti sampai disana, dia memutuskan untuk mengambil gelar master di bidang teknologi gambar.

Meskipun saat ini dirinya aktif membuat manga shounen ataupun seinin, Boichi yang terlahir pada 28 Januari 1973 ini memulai debutnya pada tahun 1993 di majalah manhwa korea yang ditujukan untuk perempuan.

Memulai Debut di Jepang Pada Tahun 2004

Boichi memulai karirnya sebagai mangaka di Jepang lewat manga Space Chef Caisar yang diterbitkan di majalah bulanan Comic Gum, semenjak itu dia mulai aktif menerbitkan manga seri maupun one-shot di Jepang. Dia juga sempat menerbitkan 11 oneshot hentai yang diterbitkan di majalah dewasa Comic Aun.

Pada tahun 2006, Boichi menerbitkan manga oneshot berjudul All for the Tuna, judul ini jugalah yang menjadi ‘perjumpaan’ pertama saya dengannya. Ceritanya sendiri dimulai dengan premis yang sederhana, apa yang terjadi kalau ikan Tuna punah?

Di tahun yang sama mangaka yang gemar makan Udon dan Soba ini juga membuat Hotel, manga ini mengantarkannya meraih penghargaan Lucca 2011 untuk Oneshot terbaik. Boleh jadi, judul ini menjadi pertama kalinya saya membaca manga dimana tokoh utamanya adalah sebuah bangunan, dan eksekusinya sangat baik, sederhana dan penuh makna.

Sun-Ken Rock, Manga Serial Terpanjangnya

Masih di tahun 2006, Boichi juga memulai serialisasi dari manga terpanjangnya sejauh ini, Sun-Ken Rock. Manga yang terbit di majalah Young King ini tamat pada tahun 2016 lalu, sayangnya Sun-Ken Rock bagi saya berakhir mengecewakan, meskipun dimulai dengan bagus.

Manga satu ini juga semakin memperlihatkan perbedaan gaya gambar perempuan dan laki-laki Boichi, benar-benar berbeda bagaikan bumi dan langit.

Sebelum menjadi ilustrator di manga Dr.Stone, mangaka yang kini sudah tinggal di Jepang ini juga pernah menjadi ilustrator di manga Raqiya, spin-off Terra Formars Asimov, Brutality, dan eques.

Mangaka satu ini juga aktif membantu kegiatan kemanusiaan, dia mendonasikan royalti yang diterimanya dari manga Sun-Ken Rock jilid 2 untuk lembaga non-profit, Children of Vietnam. Dia juga mendedikasikan royaltinya untuk korban gempa bumi Tohoku, selain itu dia juga ikut serta dalam publikasi H.E the Hunt for Energy di majalah Jump X terbitan Shueisha, gerakan yang diinisasi untuk mendorong penggunaan energi terbaharukan.

Saat ini Boichi aktif menangani dua judul sekaligus, Origin yang terbit di majalah Young Magazine, dan sebagai ilustrator di manga Dr. Stone yang terbit di majalah Shonen Jump. Apabila kalian membaca dua manga ini bersamaan, bisa jadi tambah salut karena keduanya memiliki gaya gambar yang lumayan berbeda.

Origin yang memang ditargetkan untuk pembaca dewasa memiliki gaya gambar yang khas Boichi, sedangkan Dr.Stone yang ditargetkan untuk pembaca remaja tampak lebih ‘muda’.

Tapi kalau harus milih, saya lebih suka cara Boichi menggambar perempuan di Dr. Stone. Boichi sendiri mengakui bahwa dirinya ‘hanya bahagia saat menggambar Kohaku!’ di serial Dr.Stone, dia juga menjelaskan bahwa dirinya ‘Aku benar-benar gak ingin menggambar laki-laki.’

Sekalipun Jadi Mangaka di Jepang, Boichi Tidak Bisa Bahasa Jepang

Meskipun tinggal di Jepang, dan membuat manga di majalah Jepang, Boichi sama sekali tidak bisa bahasa Jepang, dirinya mengandalkan penerjemah untuk membantu pekerjaannya sebagai mangaka.

Dia juga tidak merasa penting bagi mangaka asing untuk mempelajari bahasa Jepang, sekalipun mereka ingin debut di majalah Jepang. Dia menyarankan bahwa yang terpenting adalah untuk fokus meningkatkan keahlian menggambar manga.

“Ketika kamu jadi mangaka kadang-kadang jadwal gak memungkinkan kamu punya waktu untuk tidur. Jadi kamu pasti gak akan punya waktu untuk belajar bahasa Jepang!”