Depresi Karena Lembur, Biksu Jepang Tuntut Ganti Rugi 1,1 Milyar ke Kuil Koyasan

Lonjakan turis Jepang memang memberikan dampak positif bagi perekonomian negara itu, tapi tentunya ada juga dampak negatif. Bagi penduduk Jepang yang bekerja di industri pariwisata, serbuan turis asing ini membuat mereka harus sering lembur.

Bukan cuma pegawai kantoran, biksu di kuil yang terletak di Gunung Koya, atau dikenal juga dengan Koyasan harus lembur guna melayani turis yang datang berkunjung tanpa henti.

Baru-baru ini seorang biksu yang depresi karena kebanyakan bekerja memutuskan untuk mengajukan tuntutan ganti rugi ke Kuil Koyasan.

Lewat pengacaranya dia mengajukan tuntutan ganti rugi sebesar 8,6 juta Yen atau sekitar 1,1 milyar Rupiah. Biksu yang telah bekerja di kuil itu semenjak tahun 2008 ini mulai mengalami depresi semenjak Desember 2015, menurut pengacaranya Noritake Shirakura.

“Kalau kamu bekerja sebagai biksu, biasanya kamu bekerja tanpa pengaturan jam kerja,” ujar Shirakura kepada AFP.

“Kamu merupakan tenaga kerja, tapi kerjaanmu disebut sebagai bagian dari ajaran agama. Karena merupakan ajaran, kamu harus sabar meskipun menyulitkan dirimu.” “Melalui kasus ini, kami ingin buktikan bahwa gagasan itu sudah ketinggalan zaman,” ujarnya.

Shirakura menolak mengungkapkan identitas kliennya, hal ini dilakukan agar kliennya bisa tetap bekerja sebagai biksu mengingat sempitnya komunitas biksu Buddha di Jepang.

Kliennya pernah bekerja selama 64 hari berturut-turut untuk menghadapi banjir turis yang datang mengunjungi area Koyasan, ujar Shirakura. Bahkan, ada hari dimana dia harus bekerja selama 17 jam tanpa henti, melakukan berbagai macam kegiatan di kuil, termasuk melayani pengunjung.

Biksu ini telah mendapat dukungan dari badan tenaga kerja setempat, yang mengakui bahwa hari kerja yang panjang tanpa liburan memenuhi definisi lembur.

Meskipun langka, kasus ketenagakerjaan di bidang spiritual di Jepang sebelumnya juga pernah terjadi di Kyoto.

Pada tahun 2017, kuil Higashi Honganji dipaksa untuk meminta maaf setelah tidak membayar upah lembur dan terjadi pelecehan di kuil tersebut.