Studio Kemono Friends Tawarkan Sistem Kemitraan Untuk Gantikan Sistem Komite Produksi Anime

Yaoyorozu merupakan studio yang menangani serial anime Kemono Friends, belakangan ini namanya sempat mencuat lantaran berselisih paham dengan Kadokawa yang berujung dengan pencatutan nama mereka dari produksi season keduanya.

Senin lalu, Yoshitada Fukuhara yang bertindak sebagai produser Kemono Friends di Yaoyorozu berkesempatan untuk mengadakan presentasi berjudul “Sistem Kemitraan Untuk Merubah Sistem Komite Produksi Anime.” di Universitas Josai.

Pada presantsi yang menjadi bagian dari acara Asosiasi Riset Konten Kreatif ini Fukuhara pertama-tama membahas masalah besar yang dihadapi industri anime. Meskipun berhasil mencatatkan rekor penjualan sebesar 2 trilyun Yen, studio anime hanya menerima jatah sepersepuluhnya, atau sekitar 230 milyar Yen.

Fukuhara juga menjabarkan beberapa masalah lainnya yang dihadapi industri anime, mulai dari gaji rendah animator, studio anime yang tidak memiliki hak cipta atas karya mereka, kurangnya produser berbakat, hingga menurunnya jumlah karya asli berkualitas yang bisa diadaptasi menjadi anime.

Sistem Komite Produksi merupakan sistem paling dominan dalam proses produksi anime belakangan ini, namun sistem ini bukanlah satu-satunya. Contohnya, hingga pertengahan pertama tahun 1990, produksi anime berfokus pada stasiun televisi dan sponsor.

Barulah pada akhir 1990-an Sistem Komite Produksi menjadi populer, sistem ‘keroyokan’ ini menjadikan hak atas anime dipegang oleh perusahaan yang menginvestasikan uangnya dalam proses produksi. Alhasil, studio anime biasanya hanya menjadi ‘pabrik’ mereka tidak berhak mendapat keuntungan tambahan sepesur pun.

Selain itu, sistem ini meyebabkan perusahaan yang menjadi anggota Komite Produksi adalah yang berhak memberikan keputusan, hal yang membuat pengambilan keputusan menjadi lambat.

Hal ini tentunya jauh berbeda dengan sistem produksi perusahaan di luar Jepang, perusahaan seperti Disney misalnya, mereka adalah produsen yang juga menjadi pemegang hak cipta, menjadikan pengambilan keputusan lebih cepat.

Untuk menghadapi masalah ini, Fukuhara menyarankan “Sistem Kemitraan” baru. Dalam sisem ini, studio anime akan memegang kendali, sedangkan perusahaan distribusi luar negeri seperi Amazon dan Netflix akan menjadi mitra mereka.

Perusahaan ini nantinya akan membayarkan biaya distribusi yang besarannya disesuaikan dengan biaya produksi. Ujung-ujungnya, sistem ini diharapkan akan menjadikan studio anime sebagai pemilik hak cipta atas suatu anime.

Nantinya, studio akan dapat menjual lisensi yang dapat digunakan untuk membuat media lainnya seperti adaptasi spin-off manga, game, maupun konten lainnya.

Fukuhara mengatakan bahwa “cepat atau lambat struktur saat ini akan hancur” jika industri tetap mempertahankan sistem yang lama.

Dia juga menekankan bahwa ide tentang sistem kemintraan ini tidak serta merta ditujukan untuk menggantikan sistem komite produksi yang ada saat ini, namun dia ingin lebih banyak pilihan tersedia bagi mereka yang bergerak di industri anime.

Sumber: ANN