Pemerintah Jepang Kesulitan Memusnahkan Ganja Liar Yang Tumbuh Subur di Hokkaido

Hokkaido yang terletak di utara Jepang menjadi tempat tanaman ganja liar tumbuh subur. Tanaman yang tingginya bisa mencapai tinggi kuping gajah ini telah tumbuh semenjak berabad-abad lalu.

Masyarakat Jepang jaman dulu memang memanfaatkan tanaman Ganja yang diolah menjadi kain, tali, dan kertas. Pada era perang dunia ke-2 ganja juga dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk membuat obat. Meskipun industrinya sendiri sudah hampir punah, peninggalanya tetap membekas hingga kini.

Peninggalan tersebut bukan berarti bahwa penduduk Jepang sering menyalahgunakan ganja, karena kini ganja di Jepang dikontrol lewat Hukum Pengendalian Ganja semenjak tahun 1948. Sejarah juga mencatat bahwa yang sering menyalahgunakan ganja di Jepang adalah penduduk asing, bukannya penduduk lokal.

Yang menjadi masalah adalah tanaman ganja liar, dan sebagian besar tumbuh di Hokkaido. Pada tahun 1983 tercatat 8,5 juta tanaman ganja dimusnahkan oleh pemerintah Jepang.

Yang saya cukup yakin, bukan dengan cara dibakar dan memungkinkan penduduk Hokkaido ngefly berjamaah.

Tanaman ganja liar yang merupakan peninggalan industri ini dilarang untuk disentuh siapapun kecuali bagi mereka yang berwenang menanganinya.

Pada tanggal 7 Juli, pihak yang berwenang bekerjasama dengan pegawai prefektur berkumpul untuk menangani ganja liar yang tumbuh di lahan terbengkalai. Setibanya disana mereka melihat tanaman ganja setinggi manusia sudah tumbuh kembali, padahal tahun lalu mereka melakukan kegiatan yang sama di lokasi tersebut.

“Pemusnahan ganja liar dalam proses. Memanen tanpa ijin dan kepemilikan adalah kejahatan. Pemerintah dan kepolisian Hokkaido.”

Di bawah teriknya matahari musim panas, mereka mencabut satu persatu tanaman. Di penghujung hari, mereka berhasil mencabut 8.081 tanaman ganja seberat 280 kilogram. Namun, tidak ada yang merasa puas karena mereka sadar bahwa mereka akan melakukan hal yang sama tahun depan.

Faktanya, jumlah tanaman ganja yang mereka cabut tahun ini sepuluh kali lebih banyak dibandingkan dengan tahun sebelumnya. “Tidak peduli seberapa banyak yang kami cabut, tanaman itu tetap tumbuh,” ungkap seorang petugas kepada koran Jepang Yomiuri Shimbun, “Tumbuh dan kami cabut, lagi dan lagi.”

Bahkan sampai ada netizen yang iseng mengomentari usaha mereka dengan” Kenapa gak diekspor ke negara yang memerankannya, ” atau “Bakar aja… Bakal luar biasa jadinya,” dan “Bikin legal aja sebentar dan lihat gerombolan orang mencabutnya hingga bersih.”

Sumber: SoraNews24