Mantan Sipir Penjara Ungkapkan Bagaimana Proses Hukuman Mati Dijalankan di Jepang

Belum lama ini Abema TV mewawancarai Hirohiko Fujita, pensiunan sipir penjara yang telah bekerja selama 33 tahun di lapas Osaka. Wawancara tersebut mengungkapkan bagaimana proses hukuman mati di Jepang dijalankan.

berbeda dengan di Indonesia, di Jepang peran ‘eksekutor’ diserahkan kepada para sipir. Pada suatu hari Fujita dan empat sipir lainnya diminta untuk “menunggu” dan dipanggil satu per satu ke kantor kepala lapas.

Saat itu Fujita adalah karyawan baru, namun dia sudah mendengar rumor bahwa jika kamu disuruh “menunggu” itu artinya kamu diminta untuk mengambil bagian menjalankan prosesi hukuman mati. Umumnya tugas tersebut diberikan kepada sipir yang kinerjanya kurang bagus, hal tersebut membuat Fujita heran.

“Karena saya pekerja keras, saya yakin tidak perlu melakukannya (eksekusi hukuman mati)… Ada lima tombol serupa dan tiap sipir menekan satu tombol di saat bersamaan. Meskipun tidak ada yang tahu tombol mana yang benar, satu-satunya cara mengetahuinya adalah ketika pintu platform tidak terbuka. Kami tidak bisa berhenti di tengah-tengah proses eksekusi, jadi ada tuas darurat untuk membuka ketika malfungsi terjadi. Tugas ini diserahkan kepada sipir yang dapat dipercaya dan pekerja keras.”

Setelah mendapat tugas tersebut, Fujita memutuskan untuk menjaga jarak dari terpidana hukuman mati. Dia diinformasikan bahwa terpidana hukuman mati adalah pria berusia 70 tahun.

Fujita merasa aneh mendapati orang yang umurnya sudah tidak panjang lagi harus mendapatkan hukuman mati. Dia mencoba mencari tahu dan mendapati bahwa terpidana hukuman mati ini sebelumnya juga pernah dipenjara dan begitu keluar dia dibantu seorang biksu yang memberikannya tempat tinggal untuk memperbaiki hidupnya. Namun sang terpidana malah membalas kebaikan sang biksu dengan membunuh dan memerkosa istri dan anak sang biksu.

Setelah mendapati informasi tersebut, Fujita tidak ragu lagi untuk menjalankan tugasnya.

Umumnya, terpidana mati akan mendapat pengumuman dari jauh-jauh hari sebelum eksekusi dilakukan agar mereka dapat mengucapkan perpisahan dengan orang dekat mereka. Namun, kali ini eksekusi dilakukan tanpa pengumuman.

Terpidana mati tersebut tidak mengetahui bahwa hari ini adalah hari terakhirnya ketika kepala sipir memerintahkannya untuk “keluar.” Hanya saja dia menyadari bahwa mereka menelusuri rute yang tidak bisa, dan mulai mencurigai sesuatu.

“Ketika seseorang menyadari bahwa dirinya akan mati, biasanya manusia akan berusaha memperjang hidupnya bahkan untuk semenit, atau bahkan sedetik saja jika bisa. Sepanjang jalan dia berhenti dan menyapa setiap sipir ‘Terima kasih pak, atas semuanya!’ Tentunya sipir tidak tahu harus bereaksi apa. Kamu tidak bisa bilang ‘semoga beruntung!’ Tidak bisa berkata ‘Santai saja.’ Ketika sang terpidana mati menjabat tanganmereka dan menangis, mereka hanya dapat berdiri dalam diam. Tidak ada yang bisa kamu ucapkan.”

Setibanya di ruang interogasi, kepala sipir menginformasikan kepadanya bahwa hukuman mati akan dijalankan hari ini. Setelahnya, bersama dengan kepala sipir dan petugas, terpidana mati dibawa masuk ke dalam ruang eksekusi.

Di dalam ruang eksekusi terdapat altar yang disesuaikan dengan agama terpidana mati. Saat narapidana tengah berdoa, tali gantungan ditutupi dengan tirai. Sementara itu, Fujita dan empat sipir lainnya memasuki tombol ruangan dan bersiap-siap.

Setelah terpidana selesai berdoa, kaki serta tangan mereka diikat dan dikenakan penutup mata. Setelah tali gantungan diikatkan ke kepala, kepala lapas memberikan kesempatan terakhir kepada terpidana untuk mengucapkan kalimat terakhir.

Dia harus yakin bahwa terpidana mati telah selesai berbicara sebelum melakukan eksekusi. Menurut Fujita hal ini dilakukan untuk mencegah terpidana mati menggigit lidah mereka dan menambah “penderitaan yang tidak diperlukan”.

“Badan yang terjatuh dan dibiarkan begitu saja akan berayun, itu kejam. Jadi, ada pekerjaan paling sulit bagi seseorang. Suatu saat ketika aku tengah ikut dalam eksekusi hukuman mati, seorang sipir tua ditugaskan untuk turun dan menangkap badan terpidana mati agar tidak berayun saat jatuh. Sipir tersebut tidak mau melakukannya dan mengatakan, ‘Tolong jangan buat saya melakukan ini lagi. Aku sudah melakukannya 10 kali. Cucu saya sudah cukup tua untuk melakukannya saat ini.”

Setelah terpidana selesai berbicara, kepala sipir memberikan perintah untuk memulai eksekusi. Di dalam ruangan tombol sinyal diberikan agar semuanya menekan tombol di saat bersamaan.

Bunyi dentuman yang menandakan platform hukuman mati telah terbuka dapat terdengar dengan jelas di ruangan tombol dan eksekusi.

Setelah petugas yang menunggu dibawah menahan badan yang tergantung, petugas medis akan mengonfirmasi kematian terpidana. Tergantung berat terpidana, kematian dapat terjadi seketika dan tidak merasakan tercekik.

Kelima sipir yang bertugas turun untuk melepaskan tali gantungan dan ikatan di badan jenazah, dan meletakkanya ke dalam peti mati untuk kemudian dikremasi.

Sipir yang terlibat mendapat bayaran sebesar 3.000 yen dan makan malam sebelum pulang. Tidak ada satupun yang berbicara saat sedang makan.

Begitu pulang, Fujita mengabarkan kepada istrinya bahwa badannya berlumuran garam, tradisi orang Jepang saat bertemu dengan jenazah.

“Istriku menanyakan ‘Apa yang terjadi?’ tapi aku tidak mengatakan apapun. Setelahnya aku tidak pernah membicarakannya dan tidak ada yang bertanya. Ada semacam peraturan tidak tertulis yang melarang orang membicarakannya. Sipir yang terlibat juga tidak pernah membicarakannya.”

Fujita sendiri menginginkan dunia tanpa hukuman mati. Namun, dia sendiri tidak begitu percaya bahwa terpidana bisa bertobat dan menyesali perbuatannya.

“Mengharapkan mereka bertobat itu terlalu idealistik. Hukumat mati hanya meminta mereka membayar tindakan mereka dengan nyawanya, bukan meminta mereka menyesali perbuatannya. Siapapun yang melakukan kejahatan yang patut dihukum mati tidak memiliki pikiran dan jiwa yang normal. Jadi kupikir mengharapkan emreka menyesal itu tidak realistis dan terlalu kejam.”

Fujita yang kini berusia 70 tahun baru pertama kalinya membicarakan tentang pengalamannya bertugas sebagai eksekutor. Dia dapat mengingat semuanya seakan baru saja terjadi kemarin dan mengakui ada sipir yang trauma setelah menjalankannya.

Ketika ditanyakan apakah dia memiliki saran untuk generasi muda yang akan bertugas sebagai sipir, Fujita menjawab, “Memang menyakitkan, tapi hadapi dengan percaya diri bahwa kamu dapat melakukannya. Aku juga berharap pengalaman ini dapat berhenti menghantui kalian.”

Sumber: SoraNews24