Cerita Kelam Dibalik Indahnya Animasi Kyoto Animation

Animasi yang indah dan desain karakter yang sanggup menarik hati pria maupun wanita menjadikan Kyoto Animation sebagai salah satu studio anime Jepang yang cukup terkenal di kalangan otaku baik di Jepang maupun di mancanegara.

Tapi di balik semua keindahan itu ternyata ada sisi kelam, bahwa Kyoto Animation tetaplah salah satu studio anime di Jepang yang terkenal memiliki budaya kerja buruk.

Seseorang yang mengaku pernah menjadi pegawai Kyoto Animation memberikan review buruk terhadap studio tersebut lewat situs review perusahaan CareerConnection.jp. Review yang memberikan 1,9 bintang dari 5 bintang maksimum ini berisikan pengakuan bahwa dirinya pernah bekerja di Kyoto Animation pada tahun 2015, berusia di akhir 20-an dan hanya mendapatkan gaji sekitar 280.000 Yen setiap bulannya.

Atau beda tipis dengan gaji yang diterima pegawai combini di Jepang.

Tidak hanya itu, dia juga mengungkapkan bahwa perusahaan yang didirikan oleh seorang wanita bernama Yoko Hatta ini diskriminatif secara gender, dimana wanita lebih mudah mendapatkan promosi dibandingkan pria. Selain itu wanita juga mendapatkan pekerjaan yang lebih penting, berbeda dengan pria yang hanya mendapatkan pekerjaan biasa-biasa saja di balik layar dan tidak memiliki kesempatan untuk dipromosikan dan membuktikan diri dikarenakan tidak adanya sistem evaluasi yang pantas.

Belum lagi, banyak pekerjaan menonjol biasanya diserahkan ke kerabat pendiri perusahaan. Karenanya tidak sedikit pekerja pria yang sudah lama bekerja memutuskan untuk berhenti.

Karenanya tidak mengherankan studio Kyoto Animation diisi oleh lebih banyak pegawai wanita, dengan rasio pria wanita 2:7.

Meski demikian, bukan berarti pegawai wanita mendapatkan kondisi kerja yang lebih layak. Pengakuan lain juga datang dari pegawai berusia 22 tahun, yang mengungkapkan bahwa studio Kyoto Animation menerapkan jam kerja sepanjang 11 jam, selama 6 hari dalam 1 minggu.

Dalam 1 bulan, waktu lembur juga bisa mencapai 100 jam tapi hanya 70 jam saja yang dibayarkan. Meskipun ditulis bahwa hari Sabtu adalah hari libur, tapi pada kenyataannya pegawai Kyoto Animation tetap harus masuk. Tidak hanya itu, mereka juga harus masuk pada tanggal merah dan hanya bisa mengajukan libur selama 4 hari dalam sebulan.

Kondisi kerja ini mengakibatkan pegawai yang datang pada pagi hari baru bisa selesai bekerja di tengah malam.

Meskipun review tersebut ditulis pada tahun 2015, netizen Jepang kembali mengangkat topik tersebut dan membicarakannya. “Perusahaan hitam ya…” tulis salah satu netizen. Perusahaan Jepang atau Burakku Kigyo merupakan istilah yang digunakan oleh orang Jepang untuk menyebut perusahaan yang memiliki budaya kerja buruk, sering memberikan pelecehan secara verbal, dan menyuruh lembur tanpa membayar.

Tapi banyak juga yang meragukan kredibilitas penulis review tersebut, dan merasa yang menulisnya adalah seseorang yang anti Kyoto Animation. Belum lagi meskipun sudah dua tahun berlalu, Kyoto Animation sama sekali tidak memberikan klarifikasi sama sekali mengenai review tersebut maupun meminta review tersebut dihapus.

Sumber: Yaraon!