Sutradara Gintama Blak-blakan Soal Suramnya Industri Anime Jepang

Belum lama ini acara televisi Close-Up Gendai+ yang tayang di NHK mengangkat sisi gelap dari industri anime Jepang yang erat dengan masalah keuangan serta kondisi kerja yang bruuk bagi animator. Sutradara anime Gundam Wing, Gintama, dan School Rumble, Shinji Takamatsu memberikan pendapatnya mengenai acara tersebut lewat Twitternya pada hari Minggu (11/6).

Meskipun Takamatsu setuju dengan beberapa bagian dari episode yang menggambarkan industri anime tersebut, dia menkritisi beberapa opini yang dilontarkan acara tersebut.


Shinji Takamatsu (kanan)

Takamatsu mengatakan bahwa menggunakan teknologi seperti kecerdasan buatan dan CGI (Dalam hal ini, animasi 3D) tidak akan membantu industri anime karena akan membuat animator yang gajinya sudah kecil akan kehilangan pekerjaan.

Dia mengatakan bahwa secara umum anime memiliki biaya produksi lebih tinggi ketimbang acara televisi lainnya. Karena biaya tenaga kerja digabungkan, namun bayaran yang diterima masing-masing tenaga kerja sebenarnya kecil. Satu episode anime memperkerjakan ratusan orang. Sebagai contoh, Takamatsu mengatakan jika 10 juta Yen dibagikan kepada 200 orang, setiap orang hanya akan menerima 50.000 Yen (sekitar 6 juta rupiah).

Sutradara ini juga menekankan banyak orang menyarankan mengurangi jumlah anime yang diproduksi dan menambah biaya produksi. Namun, Takamatsu mengatakan cara berpikir seperti itu “tidak masuk akal”.

Dia mengatakan jika sebuah studio membuat anime sepanjang 12-13 episode dengan biaya produksi sekitar 100 hingga 200 juta Yen, produser tidak akan yakin dapat menjualnya meskipun biaya produksinya ditingkatkan hingga dua kali lipat. “Aku rasa siapapun tidak akan berani mengambil resiko tersebut,” ujarnya.

Pada tahun 2015 Takamatsu mengatakan bahwa sebuah serial anime membutuh biaya produksi sekitar 150 hingga 200 juta Yen. Saat itu, dia mengatakan bahwa mengharapkan uang tersebut kembali lewat penjualan DVD/BD saja adalah model bisnis yang tidak dapat diharapkan. “Tapi seperti itulah kebayakan anime tengah malam,” lanjutnya.

Melanjutkan komentarnya kepada program NHK, Takamatsu menyatakan bahwa saat ini sedikit sekali anime yang sukses secara finansial.

Dia melihat bahwa acara NHK menyebutkan sutradara anime menerima sebagian dari keuntungan, namun Takamatsu mengatakan dia tidak pernah menerima royalti seorang sutradara. Dia membayangkan mungkin hanya sutradara terkenal yang mendapatkan kontrak untuk memperoleh royalti. Takamatsu mengatakan gak peduli seberapa banyak DVD/BD anime terjual, sutradara tidak akan menerima sepeserpun uang tersebut.

Banyak orang percaya bahwa kreator anime dan manga Osamu Tezuka, yang juga dikenal sebagai “Dewa Manga”, adalah penyebab dari rendahnya biaya produksi anime. Dia memproduksi serial tv anime Jepang pertama kali, Astro Boy, dengan biaya rendah. Tezuka kemudian menutupi kekurangan biaya dengan penjualan pernak-pernik dan uangnya sendiri.

Namun, Takamatsu menjelaskan bahwa rendahnya biaya produksi anime adalah sebuah mitos yang “separuh benar dan separuh kebohongan.” Menurut Takamatsu, Astro Boy dijual murah ke stasiun TV. Namun, Tezuka percaya studio lain gak akan membuat anime dengan harga semurah itu. Jadi, salah satu mbahnya anime membuat kondisi monopoli dan membayar pegawainya dengan uangnya sendiri.


Osamu Tezuka dan pegawai Mushi Production

Takamatsu mencuitkan gambar iklan lowongan pekerjaan Mushi Productions ketika studio tersebut memproduksi Astro Boy. Dengan kondisi ekonomi tahun 1963, Takamatsu percaya bahwa Mushi Productions memperlakukan karyawannya dengan layak.

Sutradara ini juga membahas bahwa studio Mushi Productions yang asli bangkrut pada tahun 1973. Banyak mantan karyawannya yang membentuk studio Sunrise pada tahun 1972. Ketimbang membuat studio yang berpusat pada seorang kreator, seperti Tezuka di Mushi Productions, studio baru ini memutuskan untuk membentuk ulang proses produksi anime dengan model banyak produser.

Takamatsu mengakhiri cuitannya dengan mengatakan bahwa dia percaya bahwa batasan dari produksi anime dengan model saat ini sudah semakin dekat. Dia berpikir jika studio anime mulai banyak yang bangkrut barulah cara produksi anime akan berubah. Dia mengatakan hal tersebut akan terjadi dalam lima hingga sepuluh tahun.

“Tidak, bahkan (studio anime) tidak akan punya sepuluh tahun, lol,” ujarnya.

Sumber: ANN