Sulitnya Jadi Seiyuu Baru di Jepang

Penggemar anime seringkali menganggungkan para seiyuu di Jepang. Anak-anak muda membayangkan bahwa menjadi seiyuu adalah pekerjaan impian, Namun, industri ini memiliki sisi gelap, dan situs Nikkan Taishuu terbitan Futabasha menerbitkan sebuah artikel pada hari Minggu (11/6) yang mengungkap kebenaran pahit dari dunia seiyuu di Jepang.

Seorang staf dari sebuah perusahaan produsen anime mengatakan kepada situs tersebut bahwa “Sekarang, cuma gadis muda imut yang bisa jadi seiyuu wanita.” Mereka menjelaskan bahwa dulu wajah seiyuu itu urutan kedua, namun sekarang yang paling penting adalah penampilan yang baik.

Penampilan menjadi lebih penting bagi perusahaan karena seiyuu semakin sering tampil di acara, ketimbang dulu dimana mereka hanya bekerja di balik layar.

Tidak hanya itu, para seiyuu baru harus puas dengan bayaran sekitar 15.000 Yen (sekitar 1,8 juta Rupiah) untuk sebuah pekerjaan. Ketika seiyuu memutuskan untuk memperbanyak penampilan mereka di anime, mereka umumnya akan merilis CD dan tampil di acara atau melakukan konser untuk mempromosikan CD tersebut.

Terungkap juga bahwa koneksi jauh lebih penting ketimbang keahlian dalam menentukan seorang seiyuu mendapatkan peran. “Pada akhirnya, pekerjaan ditentukan berdasarkan koneksi,” ujar seorang staf produksi anime. “seiyuu yang disukai oleh direktur sebuah agensi memiliki kesempatan lebih besar mengamankan peran yang diinginkan.

Karenanya, seorang seiyuu harus bekerja keras membangun hubungan dengan karyawan kantor. Namun, usaha tersebut masih gak cukup untuk mendapatkan sebuah peran.”

Seorang seiyuu juga harus mampu menarik perhatian orang yang bertugas menangani pemilihan peran, seperti sutradara suara studio anime dan pemuat karya asli. Agar mencolok, seiyuu mungkin harus ikut serta dalam acara minum-minum dimana orang-orang tersebut hadir.

Belakangan ini, seiyuuseiyuu baru mulai berperan di game smartphone agar namanya bisa terdengar. Namun, pekerjaan semacam itu hanya mendapatkan bayaran yang tidak lebih besar dari gaji pekerjaan paruh waktu. Ketika bayaran dihitung berdasarkan jumlah kata, gaji seiyuu sangatlah kecil. Hal ini mempersulit seiyuu untuk masuk ke industri, namun banyak yang berperan di game karena ada kemungkinan judul populer akan mendapatkan adaptasi anime.

Kondisi ini semakin diperparah berkat fenomena idol yang banting setir menjadi seiyuu. Baru-baru ini, Haruka Shimazaki menyatakan bahwa dirinya ingin mejadi seiyuu di film Ghibli setelah lulus dari AKB48. Sebelum lulus dari AKB48 pada tahun 2016, Shimazaki berperan sebagai Yukippe di film anime Eiga Yo-kai Watch: Tanjō no Himitsu da Nyan! yang dirilis pada tahun 2014.

Banyak anggota dari AKB48 dan SKE48, dan idol-idol lainnya, juga berkarir sebagai seiyuu. Karena mereka sudah mempunyai penggemar, mantan idol akan lebih mudah sukses di dunia seiyuu ketimbang orang muda yang belum punya pengalaman.

Karena faktor-faktor tersebut, anak muda yang ingin menjadi seiyuu sangat kesulitan untuk dapat dikenal. Gak jarang mereka harus mengambil pekerjaan sampingan. Menurut orang dalam di industri seiyuu, bagi anak muda menjadi seiyuu tidak akan sama dengan apa yang diimpikan oleh mereka selama ini.

seiyuu terkenal Megumi Hayashibara (Rei dari Neon Genesis Evangelion, Ai Haibara dari Detektif Conan) sempat mengeluarkan kritik pedas soal seiyuu di Jepang. Dia mengatakan seiyuu sukses akan dipaksa untuk menampilkan kalimat klise dan tipikal pada era anime modern yang miskin hal baru. Dia juga mengatakan bahwa seiyuu populer bisa hilang popularitasnya hanya dalam beberapa tahun.

Pada tahun 2016, seiyuu Kousuke Takeuchi dan Satomi Akesaka pernah mengomentari penipuan yang ada di industri ini dan sulitnya membuat gebrakan.

Sumber: ANN