Serangan Ransomware Tumbuh Subur di Jepang

Perusahaan dan individu di Jepang semakin sering menemukan komputer mereka menjadi target serangan ransomware — program jahat atau malware yang meminta uang tebusan agar pengguna dapat mengakses kembali data mereka.

Masakatsu Morii, profesor teknologi informasi dan telekomunikasi di Universitas Kobe mengatakan bahwa serangan siber terhadap perusahaan di Jepang terus tumbuh subur.

“Penyerang mungkin telah mengetahui bahwa orang Jepang akan membayar uang tebusan,” tambahnya.

Umumnya ransomware menginfeksi komputer ketika penggunanya membuka lampiran yang berisikan malware. Program jahat tersebut mengunci data yang ada di dalam komputer, dan untuk kembali mengaksesnya pengguna harus membayar uang tebusan.

Seorang peneliti di Agensi Teknologi yang berkaitan dengan pemerintahan, Yoshihito Kurotani mengatakan bahwa program jahat tersebut menggunakan teknologi enskripsi yang umum. Agensi tempat Kurotani bekerja telah sering menerima klien yang tidak bisa mengakses foto maupun berkas bisnis setelah komputernya menjadi korban ransomware.

Kurotani juga mengakui bahwa Jepang secara terbukti telah menjadi target ransomware.

Firma keamanan komputer Trend Micro Inc. mengatakan bahwa mereka telah menerima 2.810 laporan serangan ransomware di Jepang selama tahun 2016 — meningkat 3,5 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

“Taktik (serangan) diperkirakan akan lebih mutakhir di tahun 2017,” ucap perwakilan Trend Micro.

Survei yang dilakukan firma pada bulan Juni 2016 menunjukkan bahwa 60 persen perusahaan yang menjadi korban serangan memutuskan untuk membayar uang tebusan. Bahkan ada kasus dimana uang tebusan mencapai lebih dari 10 Juta Yen atau sekitar 1,17 Milyar Rupiah.

Katsuyuki Okamoto, ahli keamanan di Trend Micro mengatakan bahwa semakin mudah bagi seseorang menjadi korban kejahatan siber.

Ahli keamanan siber mewanti-wanti agar pengguna melindungi komputer mereka dengan selalu memastikan sistem operasi dan piranti lunak antivirus selalu dalam kondisi update dan rutin membackup data yang ada.

Selain itu para korban serangan juga tidak disarankan untuk membayar uang tebusan, lantaran tidak ada jaminan data dalam komputer yang diserang akan dapat dipulihkan.

“Jika kamu membayar uang kepada kriminal, hal itu hanya akan membantu mereka membuat virus baru,” ujar Okamoto. “Jadi jangan pernah membayar mereka.”

Sumber: Japantimes