Upaya Pemerintah Jepang Mengurangi Karoshi Dengan Jam Istirahat

Karoshi atau mati karena kebanyakan bekerja sudah menjadi hal umum di Jepang, bukan cuma di industri anime tapi kondisi tersebut terjadi hampir di semua perusahaan di Jepang. Pemerintah Jepang sendiri sebenarnya sadar akan bahanya budaya kerja negara mereka, salah satu upaya yang mereka lakukan belum lama ini adalah membuat Premium Friday.

Kini pemerintah dan pelaku usaha tengah merencanakan untuk mewajibkan waktu ‘istirahat’ yang cukup setiap harinya. Beberapa perusahaan telah mengujicoba hal tersebut, sementara itu Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe berencana untuk mensubsidi perusahaan yang mengadopsi sistem tersebut semenjak bulan April.

Sistem waktu istirahat ini mengharuskan seorang pegawai memiliki waktu istirahat yang cukup, dengan menerapkan waktu istirahat minum di antara hari mereka selesai bekerja hingga mulai bekerja kembali di keesokan harinya. Sebagai contohnya, di uni Eropa, ada sebuah aturan yang mewajibkan seorang pegawai memiliki waktu istirahat sekurang-kurangnya 11 jam.

Menurut riset yang dilakukan oleh Institusi Riset dan Informasi Mizuho, hanya ada 2,2 persen dari 1.743 perusahaan yang memiliki peraturan mengenai waktu istirahat yang cukup tersebut.

Menurut menteri yang mengepalai reformasi tenaga kerja, Katsunobu Kato mengatakan bahwa “Tidak adanya lingkungan dimana tindakan hukum bisa diterapkan kepada pelanggar aturan,” mengingat rendahnya persentase perusahaan yang menetapkan kebijakan jam istirahat.

Namun, kementerian kesehatan Jepang menganggarkan 2 Milyar Yen untuk mensubsidi hingga 500.000 Yen untuk usaha kecil dan menengah yang mencoba menerapkan kebijakan tersebut. Menurut situs kementerian tersebut, perusahaan yang ingin mengajukan subsidi tersebut wajib menerapkan setidaknya sembilan jam istirahat bagi karyawannya.

Mengapa Jepang Mencoba Kebijakan Ini

Budaya kerja Jepang melihat jam kerja panjang sebagai bukti dedikasi kerja. Tapi pandangan tersebut sudah semakin usang. Terutama setelah adanya kasus bunuh diri seorang pegawai Dentsu yang ditetapkan sebagai mati karena kebanyakan bekerja. Kasus tersebut menyebabkan karoshi kembali menjadi sorotan publik.

Perdana Menteri Abe berkeinginan untuk memperbaiki budaya kerja yang tidak sehat tersebut melalui reformasi tenaga kerja dan menginginkan penduduk Jepang dapat menikmati hidup mereka dan mencegah karoshi terjadi.

Pandangan Dari Para Pelaku Usaha

KDDI corp, perusahaan telekomunikasi di Jepang mulai mencoba menerapkan peraturan istirhat pada tahun 2012. Mereka mewajibkan pegawai untuk beristirahat setidaknya 8 jam, dan idealnya 11, agar memiliki hidup yang lebih sehat.

Tatsuo Moteki, manajer pengupahan di departemen tenaga kerja KDDI Corp mengatakan sistem tersebut ditargetkan untuk mengubah pola pikir pegawai. Moteki mengatakan pola pikir tersebut diperlukan agar perusahaan dapat bekerja lebih baik dengan waktu terbatas, jika tidak perusahaan akan mengalami beragam kerugian, salah satunya tidak bisa menarik minat pegawai asing.

Unicharm, perusahaan produsen produk rumah tangga dan perawatan anak, mulai memperkenalkan sistem istirahat delapan jam di bulan Januari. Seperti KDDI, Unicharm memperkenalkan sistem tersebut untuk meningkatkan produktifitas dengan waktu yang terbatas, jelas Yukinari Watanabe, seorang manajer senior di divisi HR dan administrasi Global Unicharm.

Dengan adanya waktu istirahat yang cukup, pegawai akan mempunyai hidup yang lebih sehat dan mengikuti kegiatan yang memperkaya diri – keuntungan bagi perusahaan, ujar Watanabe.

Namun, baik KDDI maupun Unichar mengatakan ada kekhawatiran sistem interval istirahat ini dapat mengganggu bisnis karena dapat menyebabkan hilangnya peluang bisnis pada musim sibuk.

“Beberapa orang mengatakan jam kerja panjang kerap kali dibutuhkan untuk mendapatkan hasil terbaik,” kata Watanabe. Namun dia juga menyatakan meskipun dia paham bahwa hal tersebut adalah sudut pandang yang tepat, namun budaya kerja seperti itu tidak akan ada selamanya. Perusahaan dan pegawai harus mencoba mencari jalan merampungkan pekerjaan dengan aturan tersebut.

Watanabe mengatakan bahwa Unicharm berkeinginan menambah waktu istirahat minimum tersebut menjadi lebih banyak di masa yang akan datang.

Dampak Positif

Meskipun selama ini KDDI mengatakan bahwa tidak banyak pegawai yang lembur panjang, namun berkat sistem ini KDDI mampu mengelola personil mereka dengan cara yang berbeda – seberapa banyak mereka istirahat.

Moteki mengatakan perusahaan sadar berapa lama waktu yang dihabiskan seorang pegawai untuk bekerja sebelum sistem interval istirahat ini diterapkan. Waktu lembur mereka memang belum melebih batas yang diizinkan, namun ketika perusahaan melihat berapa lama waktu istirahat yang diambil seorang pegawai, mereka menyadari bahwa sekitar 20 pegawai per bulan tidak mematuhi aturan tersebut.

“Sekarang kami melihat pegawai dengan cara yang berbeda,” jadi perusahaan dapat menawarkan bantuan sebelum mereka mendapatkan masalah kesehatan, kata Moteki. Unicharm dan KDDI mengakui bahwa meskipun budaya jam kerja mulai berubah, beberapa pegawai masih mempunyai pola pikir jadul.

Watanabe mengatakan terlalu dini untuk menilai dampak dari kebijakan baru, perusahaan harus membuat pegawai lebih sadar mengapa peraturan jam istirahat tersebut menjadi sebuah kewajiban tambahnya.

Sumber: Japantimes