Live Action Ghost in the Shell, Dicaci Maki Penonton Internasional Dicintai di Jepang

Adaptasi live action Ghost in the Shell oleh Hollywood tampaknya akan menderita kerugian setelah hasil box office yang mengecewakan dan banyaknya review yang tidak bagus di barat. Tapi di Jepang, dimana film ini baru mulai tayang pada akhir minggu, adaptasi live action dari anime klasik tahun 1995 ini ternyata populer di kalangan penonton domestik.

Hanya dalam tiga hari penayangan, Ghost in the Shell telah memperoleh pendapatan lebih dari 3 Juta USD, hasil yang menakjubkan mengingat hasil yang kurang menyenangkan di Amerika Serikat untuk periode waktu yang sama. Penonton Jepang dilaporkan menyukai film tersebut, mereka tampaknya tidak terlalu memperdulikan kontroversi yang terjadi seputar dominasi aktor kulit putih di film ‘kepunyaan’ Jepang ini.

Situs review film Yahoo Japan menampilkan bahwa film ini mempunyai rating 3,56 menurut para anggotanya, lebih tinggi dari versi anime aslinya. The Hollywood Reporter juga mewawancarai penonton Jepang, kebanyakan mengatakan hal positif mengenai adaptasi Ghots in the Shell ini. Mereka memuji visualnya yang keren, penampilan Scarlett Johansson dan pendekatan orisinal ke serial aslinya.

Penonton Jepang berpendapat film ini memang lebih cocok menggunakan artis kulit putih ketimbang artis Jepang

“Aku dengar orang-rang di Jepang ingin artis Asia berperan sebagai dia (tokoh utama Ghost in the Shell),” ujar Yuki terhadap THR. “Memangnya bakal OK kalau dia adalah artis Asia atau Asia-Amerika? Sejujurnya, bakal lebih buruk, seseorang dari negara Asia lain berpura-pura menjadi orang Jepang. Lebih baik membuat karakter kulit putih.”

Komentar tersebut tidak terlalu mengejutkan. Meskipun banyak yang mengkritik keputusan sutradara Rupert Sanders yang dituduh melakukan whitewash terhadap film live action Ghost in the Shell, baik tim kreatif maupun pembuat karya aslinya tidak mempermasalahkannya.

Mamoru Oshii selaku sutradara anime Ghost in the Shell memang tidak mempermasalahkan sama sekali keputusan menjadikan Scarlett Johannson sebagai tokoh utama film ini alih-alih menggunakan artis ras Asia.

“Memangnya masalah apa yang mungkin terjadi akibat memilih dia?” Ucapnya ketika diwawancarai IGN. “Mayor adalah cyborg dan keseluruhan wujud fisiknya hanyalah asumsi. Nama ‘Motoko Kusangai’ dan tubuhnya bukanlah nama dan badan aslinya, tidak ada dasar yang menjadikan dirinya harus diperankan artis Asia. Bahkan jika tubuh aslinya (kalau ada) adalah orang Jepang, hal tersebut akan tetap berlaku.”

Sumber: Polygon