Dentsu, Mati Karena Bekerja, dan Budaya Kerja Jepang

Inao Jiro, Manajer JKT48 ditemukan bunuh diri dengan cara menggantung dirinya di kamar mandi di rumahnya yang berlokasi di Tangerang Selatan. Ini bukan pertama kalinya karyawan Dentsu, agensi dari JKT48, yang bunuh diri karena tidak tahan atas beban kerja yang musti dihadapi.

Di tahun 2015 kasus kematian pegawai di agensi iklan besar, Dentsu, membuat heboh Jepang. Pegawai berusia 24 tahun itu diduga meninggal karena kebanyakan bekerja, selama delapan bulan Takahashi telah lembur lebih dari 100 jam setiap bulannya.

Takahashi bunuh diri dengan cara loncat dari lantai tiga asrama yang disediakan oleh Dentsu.

Sebulan sebelum bunuh diri Takahashi sempat menulis di blog pribadinya. “Ini jam 4 pagi. Badanku gemetar… aku gak bisa melakukannya. Aku akan mati. Aku sangat lelah,” tulisnya. Beberapa saat sebelum meninggal, Takahashi menulis lagi di blognya.

“Apa yang akan tersisa di hidupku meskipun aku berhasil melewati stress harian sembari berpikir tentang mati?”

“Mungkin mati adalah pilihan yang lebih membahagiakan.”

Setahun setelah kematiannya, di tahun 2016 ibu dari Takahashi mengeluarkan surat terbuka. “Yang paling aku inginkan adalah anakku hidup,” tulis Yukimi Takahashi.

“Semenjak hari itu, waktuku berhenti, dan masa depan serta harapanku telah sirna,” ucapnya. Dia juga mengutarakan penyesalannya karena tidak cukup keras memaksa putrinya untuk berhenti.”

Dia juga mendesak Dentsu untuk mengadakan perubahan sungguhan dan meminta seluruh pegawai untuk merubah pola pikir mereka. “Aku harap semua orang yang bekerja di Jepang mengubah cara pandang mereka soal pekerjaan.”

3 Hari setelahnya, Direktur Utama Dentsu, Tadashi Ishii menyatakan mengundurkan diri sebagai rasa tanggung jawabnya atas peristiwa bunuh diri Takahashi.

Semenjak kejadian tersebut, pegawai di Dentsu dilarang lembur lebih dari 65 jam setiap bulannya, turun dari batas sebelumnya, 70 jam.

Beban kerja yang tinggi adalah salah satu faktor penyebab bunuh diri terbanyak di Jepang. Menurut catatan Kementerian Kesahatan dan Tenaga Kerja Jepang, pada tahun 2015 terdapat 2.159 kasus bunuh diri dan isu terkait pekerjaan menyumbang salah satu penyebab terbesar bunuh diri di Jepang.

Budaya kerja di Jepang selama ini memang terkenal berat, namun juga tidak efektif. Tidak jarang pegawai Jepang berlama-lama di Kantor mengerjakan pekerjaan yang sama, hanya agar dirinya terlihat sibuk dan tenggelam dalam pekerjaannya.

Pemerintah Jepang sendiri tengah berusaha memperbaiki budaya kerja ini, salah satunya lewat program Premium Friday yang baru saja mereka luncurkan.

Namun, karena masih banyak masyarakat Jepang yang menganggap budaya kerja saat ini masih bagus, seperti ucapan mantan pegawai perusahaan finansial yang juga profesor, yang mengatakan bahwa Takahashi payah karena memutuskan untuk bunuh diri hanya karena lembur 100 jam, sepertinya Jepang masih akan dihantui masalah tersebut entah sampai kapan.