‘Premium Friday’ Solusi Pemerintah Jepang Untuk Menekan Angka Kematian Karena Kebanyakan Bekerja

Di Jepang, istilah “premium” umumnya digunakan sebagai penanda kualitas tinggi. Contohnya, Suntory “The Premium Malt”, Wendy “JAPAN premium”, atau iklan “Japan Premium” dari Panasonic untuk mempromosikan produknya yang dibuat di Jepang.

Dalam rangka memerangi jam kerja super panjang dan karoshi atau “mati karena kebanyakan bekerja”. Pemerintah Jepang mengumumkan sebuah proyek baru di bulan Februari bernama “Premium Friday”, dimana pegawai akan bisa pulang dari kantor pukul 3 sore di hari jumat terakhir setiap bulannya.

Sekitar 130 perusahaan, termasuk perusahaan besar seperti Toyota dan Suntory telah setuju untuk ikut ambil bagian di Premium Friday, dan meminta agar semua karyawan berhenti bekerja di sore hari.

Premium Friday dipercaya akan memberikan para pegawai memiliki hidup yang lebih seimbang, dan di saat bersamaan mendorong pertumbuhan ekonomi seiring meningkatnya daya beli konsumen.

Di tahun 2015 kasus kematian pegawai di agensi iklan besar, Dentsu, membuat heboh Jepang. Pegawai berusia 24 tahun itu diduga meninggal karena kebanyakan bekerja, selama delapan bulan Takahashi telah lembur lebih dari 100 jam setiap bulannya.

Takahashi bunuh diri dengan cara loncat dari lantai tiga asrama yang disediakan oleh Dentsu.

Sebulan sebelum bunuh diri Takahashi sempat menulis di blog pribadinya. “Ini jam 4 pagi. Badanku gemetar… aku gak bisa melakukannya. Aku akan mati. Aku sangat lelah,” tulisnya. Beberapa saat sebelum meninggal, Takahashi menulis lagi di blognya.

“Apa yang akan tersisa di hidupku meskipun aku berhasil melewati stress harian sembari berpikir tentang mati?”

“Mungkin mati adalah pilihan yang lebih membahagiakan.”

Siapapun yang membaca blog Takahashi pasti akan merasa empati dan merasakan bagaimana sengsaranya hidupnya sebelum meninggal. Namun yang mengejutkannya ada saja penduduk Jepang yang tidak peduli dan mengeluarkan ucapan yang sangat tidak sensitif. Seorang profesor di Jepang yang juga mantan pegawai perusahaan finansial mengeluarkan cuitan di Twitter.

“Baru 100 jam lembur sudah mati? Payah!”

Dengan Premium Friady, pemerintah Jepang berharap untuk mencegah tragedi serupa terjadi lagi di angkatan muda yang tengah bekerja. Selain itu di saat bersama pemerintah juga berharap Premium Friday akan meningkatkan ekonomi Jepang yang tengah melambat.

Pegawai Jepang yang pulang cepat tersebut kemungkinan akan mengunjungi toko, bar, dan restoran untuk berbelanja, makan, dan minum. Karenanya ekonomi akan meningkat.

Sekuritas SMBC Nikko memproyeksikan akan ada peningkatan GDP sebanyak 63,4 Milyar Yen dengan meningkatknya konsumsi.

Tentu saja karena proyek Premium Friday baru saja dimulai masih sulit untuk diprediksi apakah pemerintah Jepang akan sukses dalam menekan budaya gila kerja di masyarakat Jepang.

Sumber: Grapee