Industri Perfilman Jepang Bisa Tetap Hidup Karena Anime

Meskipun seringkali proses produksi serial TV anime bermasalah, mulai dari studio yang bangkrut, proses produksi yang bermasalah, hingga gaji kecil. Namun, industri perfilman Jepang bisa mati kalau bukan karena anime.

Penonton film di Jepang tampaknya memilih untuk menonton anime ketimbang film live-action. Semenjak tahun 2011, semakin sering judul film anime yang merajai box office di Jepang. Bahkan 75% pendapatan industri perfilman Jepang didominasi oleh anime. Dimana puncaknya pada tahun 2016 6 dari 10 film dengan pendapatan terbesar di Jepang adalah anime.

Alhasil, industri perfilman di Jepang pun semakin bergeser, bukan hanya film anime, namun semakin banyak yang membuat adaptasi live-action dari serial manga dan anime. Sama seperti Hollywood yang semakin sering mengadaptasi komik dan novel remaja.

Hal ini diiringi dengan meningkatnya jumlah seiyuu. Jika dulu seiyuu hanya dipandang sebagai orang yang mengisi suara acara anak-anak, saat ini mereka dilihat sebagai artis multi talenta. Mereka harus rajin mengikuti acara dan secara aktif mempromosikan pekerjaan mereka.

Dari sisi produksi, anime pun memiliki keuntungan tersendiri. Berbeda dengan film live-action, anime tidak memerlukan budget yang besar untuk memproduksi CGI yang realistis. Biaya produksi musik pun bisa ditekan, karena seiyuu juga bisa bertindak sebagai penyanyi untuk mempromosikan film. Produksi anime pun tidak memerlukan biaya tambahan untuk lisensi, produksi kostum dan asuransi untuk para aktor.

industri perfilman jepang

Sebagai contoh, Studio Ghibli ‘hanya’ memerlukan dana sebesar 15 Juta Dolar untuk memproduksi Spirited Away, angka tersebut terhitung besar untuk produksi film anime. Namun mereka berhasil memperoleh pendapatan sebesar 289,1 Juta Dolar. Dengan budget yang sama, film Shin Godzilla hanya mampu mendapatkan 77,9 Juta Dolar.

Sumber: Goboiano